Burgerkill: Only The Strong

Standard

Jakarta – Lebih dari 20.000 pasang mata menyaksikan Burgerkill ketika mereka dengan gahar menjadi headliner festival metal terbesar di Indonesia, Bandung Berisik 2011, yang digelar pada 11 Juni silam di Lapangan Brigif Cimahi, Jawa Barat. Panggung seukuran 18 x 12 meter dengan kekuatan sistem tata suara 150 ribu watt dan tata cahaya 300 ribu watt membuat aksi cadas Burgerkill malam itu, yang dipadukan dengan multimedia di layar besar, menjadi sangat mengesankan.

Seakan penampilan malam tersebut ingin menegaskan bahwa secara kualitas, performa Burgerkill tidak kalah dengan band-band cadas internasional lainnya. Dan saya pikir, siapapun yang masih memiliki akal sehat dan mampu berpikir obyektif harus setuju sepenuhnya dengan pendapat tersebut. Mereka adalah band metal terbesar di Bandung saat ini, dan juga salah satu yang terbesar di negara ini.

Semua penonton pun tampak antusias menunggu kuintet metal Vicky, Eben, Agung, Andris dan Ramdan menghentak panggung yang malam itu agaknya sengaja mereka dekor dengan sampul album terbaru mereka, Venomous. Bukan kebetulan Venomous juga untuk pertama kalinya dirilis bertepatan dengan digelarnya perhelatan metal yang kembali sukses menempatkan Bandung sebagai barometer musik cadas di tanah air.
”Saya salut dengan Burgerkill, respon album terbaru mereka sangat luar biasa. Bayangkan, hanya dalam beberapa jam, 1000 CD album terbaru mereka langsung ludes terjual hanya di Bandung Berisik,” jelas David Karto, Managing Director Demajors, label rekaman yang mendistribusikan album Burgerkill di seluruh Indonesia.

Tidak mengagetkan sebenarnya fenomena penjualan yang dicapai oleh Burgerkill terhadap album terbaru mereka tersebut. Karena memang Venomous tidak dapat dipungkiri lagi telah lama menjadi salah satu album metal yang paling ditunggu-tunggu oleh ribuan penggemar musik cadas di tanahair.

Sejak kesuksesan fenomenal album mereka sebelumnya, Beyond Coma and Despair (2006), yang secara penjualan juga menggembirakan dan secara kualitas menerima banyak pujian dan penghargaan (posisi 113 di daftar 150 Album Terbaik Indonesia Sepanjang Masa versi majalah ini) otomatis tentunya ada tekanan dan bayang-bayang besar yang menghantui para personel Burgerkill dalam menggarap Venomous ini, sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka alami saat menggarap album-album sebelumnya.

Oleh karena itu, khusus untuk membahas Venomous, di suatu malam yang cukup melelahkan sebenarnya bagi mereka, karena telah berkeliling ke beberapa media untuk mempromosikan album baru ini, Rolling Stone mengundang vokalis Vicky, gitaris Eben, gitaris Agung, drummer Andris dan bassist Ramdan ke kantor kami untuk membedah sekali lagi album terbaru yang memakan waktu lima tahun penggarapan ini. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Mengapa perlu waktu lima tahun untuk merilis album baru ini?
Eben: Mengapa bisa sampai lima tahun?
Agung: Yang pertama karena budaya… [tertawa]
Eben: Budaya, karena anak-anak memang santai. Kedua, banyak hal dan kendala juga. Pada 2006 banyak kendala, setelah album tersebut rilis Juni 2006, vokalis kami saat itu, Ivan, meninggal dunia, berlanjut dengan audisi vokalis baru yang mendapatkan Vicky, banyaknya tur konser kami dan itu tadi, ideologi santai kami juga [tertawa].

Proses penulisan lagu di album Venomous ini sejak kapan dimulainya?
Eben: Sejak 2007, awal Viki masuk ke band. Lagu “Through The Shine” adalah yang paling pertama dibuat untuk Venomous.

Menarik, ternyata sampai sekarang kalian masih menggunakan long-time producer Yayat Ahdiat untuk album terbaru Burgerkill ini, apa alasannya?
Ramdan: Personel Burgerkill sebenarnya enam orang, satu orang lagi ada di bawah panggung, Yayat itulah orangnya [tertawa].
Eben: Alasannya? Yang pasti kami nyaman dengan Yayat. Dan dia mengenal betul karakter anak-anak. Kooperatif juga. Otomatis cara kerjanya lebih enak. Sempat terpikir untuk mengganti studio sebenarnya, kalau ganti produser tidak, masih akan yang sama.

Berarti sejauh ini Yayat adalah yang paling berhasil mengakomodasi keinginan kalian?
Eben: Sound-nya Burgerkill bisa dibilang adalah sound-nya Yayat juga. Ikut membantu memberi warna kepada sound Burgerkill. Dan selama perjalanan empat album ini, anak-anak nggak kecewa dengan hasilnya.

Target kreatif tercapai?
Eben: Betul, inginnya memang begitu, puas ke sendiri dululah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s