Burgerkill

Standard

Burgerkill. Kampiun metal Indonesia yang sudah tahan banting. Tidak hadir secara instan sebagaimana biduan layar kaca yang dipilih melalui voting sms pemirsa. Mereka hadir dengan mengalami beragam dinamika dan perubahan, baik itu secara internal maupun eksternal. Ibarat sebagai baja stainless, Burgerkill telah ditempa oleh palu metal selama 16 tahun lamanya, dan oleh sebab itu, mereka tentu telah teruji.

 

Ditemui Indonesia Kreatif di sela-sela latihan di daerah Jl. Gumuruh, Bandung, pada Jumat (18/11), kelima awak Burgerkill, yakni Vicky (vokalis), Ramdhan (bassis), Eben (gitaris), Agung (gitaris), dan Andris (drumer), berbagi cerita mengenai perjalanan yang telah ditempuh oleh mereka selama ini. Mulai dari pengalaman mereka melakukan tur di beberapa daerah di Asia Tenggara, tampil di festival musik terbesar di Australia, Big Day Out, hingga membicarakan perjalanan karir mereka.

Mengenai perjalanan Burgerkill selama 16 tahun, Eben mengatakan, bahwa fokus memberikan peranan yang penting. Selain itu, kemauan maupun kemampuan untuk belajar pun memiliki peranan penting bagi perjalanan karir Burgerkill.

“Yang penting itu mau belajar. Kami bisa seperti ini, karena mau belajar. Belajar membuat lagu, belajar mengurus bisnisnya, hingga belajar gimana caranya merilis album. Semuanya pasti bisa, kalau kita mau belajar,” kata Eben.

Tak beberapa lama, Andris pun turut menyumbang suara. Menurutnya, selain keinginan belajar, mental pun perlu dipersiapkan bila ingin terjun total dalam dunia musik. “Membuat band itu polanya cukup berbeda dengan pekerjaan lain, dan seringkali melelahkan. Siang jadi malam, malam jadi siang. Kadang sudah enggak normal,” kata Andris.

Lebih lanjut, Andris mengatakan, keberanian harus terus ditempa, termasuk menghadapi tuntutan dari lingkungan sekitar, seperti keluarga, maupun orang terdekat. “Iya, kadang ada aja orang berhenti bermusik gara-gara tuntutan pacar,” ujar Andris sambil tertawa.

Namun demikian, Eben pun tidak menampik, bahwa perkembangan band yang dia tekuni bersama kawan-kawannya itu tidak dipengaruhi oleh faktor fokus dan mental semata. “Di sini juga ada kesempatan, lalu unsur keberuntungan. Saya pikir banyak potensi-potensi yang bagus di Indonesia, hanya, ya itu tadi, unsur kesempatan dan keberuntungan juga memainkan peran di sini,” kata Eben.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s